Sabtu, 21 Maret 2009

tokoh soempu terkenal



AHMAD SYAFII MAARIF, URANG KAMPUANG KITO!

Fii Prof DR Ahmad Syafii Maarif adalah tokoh nasional berkaliber internasional yang berasal dari Sumpur Kudus, Sawahlunto/Sijunjung, Sumatera Barat. Yek Pii - panggilan akrab masyarakat Sumpur Kudus pada mantan ketua PP Muhammadiyah ini - merupakan tokoh kebanggan masyarakat Sumbar, khususnya Sumpu, nagari kecil tempat ia dilahirkan. Ia dilahirkan di Sumpurkudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935.

Menamatkan SD di kampung halamannya, Syafii Maarif kemudian melanjutkan pendidikan ke Mu’limin Lintau, Tanah Datar. Ia juga sempat mengecap pendidikan setara SMP di Yogyakarta dan tamat pada tahun 1950 , sedangkan SMA ia tamatkan pada 1956 di kota yang sama. Selanjutnya, ia terdaftar sebagai mahasiswa FKIP Cokroaminoto, Surakarta (1964), FKIS IKIP Yogyakarta (1968), dan mendapatkan prediket doktoralnya di Universitas Chicago, USA pada 1982.
Buk Pemikiran-pemikirannya terangkum dalam sejumlah buku, antara lain: Mengapa Vietnam Jatuh Seluruhnya ke Tangan Komunis, Yayasan FKIS-IKIP Yogyakarta 1975; Dinamika Islam, Shalahuddin Press, 1984; Islam, Mengapa Tidak?, Shalahuddin Press, 1984; Percik-Percik Pemikiran Iqbal (bersama M. Diponegoro), Shalahuddin Press, 1984 dan Islam dan Masalah Kenegaraan, LP3ES, 1985. Selain itu, ia pun telah menerbitkan autobiografinya, Titik-titik Kisar dalam Perjalanan Hidupku (Gramedia). Sementara, buku Refkelsi 70 Tahun Syafii Maarif adalah sebuah buku yang ditulis oleh dan tentang dirinya.

Keluarga Ayah Muhammad Hafidz ini pernah berperan sebagai Anggota Kelompok Pemikir Masalah Agama Departemen Agama (1984-kini) Guru Besar IKIP Yogyakarta, Dosen Pascasarjana IAIN Yogyakarta, serta tergabung dan menduduki jabatan dalam beberapa organisasi seperti Muhammadiyah (1955-kini), anggota HMI (1957-1968) ;Pengurus HMI Surakarta (1963-1964) ;Pejabat Sementara Ketua Umum PP Muhammadiyah;Ketua Umum PP Muhammadiyah 1999 -2004

Ia menikah dengan Nurkhalifah, yang juga berasal dari Sumpur Kudus, dan dikarunia seorang putra, Muhammad Hafiz.

Safii Setiap kali pulang ke kampung halamannya d Sumpur Kudus, Ahmad Syafii Maarif selalu disambut dengan meriah. Namun, semua itu tak membuatnya pongah. Syafii malah dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan murah senyum. Ya, tokoh ini mungkin menerapkan falsafah ilmu padi, semakin berisi maka ia pun semakin merunduk. Ia adalah urang kampuang kito yang namanya mewangi di pentas pemikiran nasional dan internasional.

Satu pertanyaan yang patut kita renungi adalah, adakah generasi Sumpur Kudus berikutnya yang bisa berkiprah seperti gayek Pii? Kita tunggu!

5 komentar:

  1. Mudah2an aja orang sumpu tidak hanya terbuai dengan kebanggaan karena memiliki tokoh yang berkaliber International. Moga2 mereka juga mau mengikuti jejak buya Syafi,i.

    BalasHapus
  2. Sant Cruz, California, USA 30 Juni 2009
    Silakan lihat posting saya di Rantaunet:
    http://www.mail-archive.com/rantaunet@googlegroups.com/msg17014.html

    Salam,
    Sjamsir Sjarif
    http://www.usindo.net/hambo

    BalasHapus
  3. Kalau susah mengakses langsung URL ini, copy and pastekan di Google Search. Anda akan berjumpa posting saya di Rantaunet

    http://www.mail-archive.com/rantaunet@googlegroups.com/msg17014.html

    Sjamsir Sjarif
    Rang Rimbo Batang Sami

    BalasHapus
  4. rantaunet

    [EMAIL PROTECTED] Sumpur Kudus Surplus Padi

    Hambo Ciek
    Mon, 16 Jun 2008 10:04:51 -0700

    Sementara daerah-daerah lain baik di daerah, di dalam negeri, maupun diluar
    mempunyai kesulitan dengan produksi beras, kita dapat berita yang sangat
    menggembirakan ini dari Sumpur Kudus. Alhamdulillah, ini adalah suatu Rahmat
    yang dilimpahkan Ilahi kepada Penduduk Negeri yang setia terhadap masa-masa
    sulit di setiap perjuangan.
    Dalam berita ini ditekankan di masa perjuangan PDRI, tetapi Penduduk Sumpur
    Kudus juga menerima para pengungsi PRRI yang bertahan sampai saat terakhir
    dengan penuh kerelaan hati. Walaupun pada saat PRRI Sumpur Kudus tidak
    mempunyai Bahan Makanan yang cukup, padi harus didatangkan dari daerah lain
    dengan kuda beban, namun penduduk dengan sukarela membagi-bagi apa yang`ada
    dengan kaum muhajjirin.
    Tidak mustahil, walaupun tidak disebut dalam sejarah, saya bayangkan Sumpur
    Kudus juga punya peranan penting dalam masa Perang Paderi. Bukan saja karena
    Sumpur Kudus adlah kedudukan Raja Ibadat (salah satu dari Rajo nan Tigo Selo)
    tetapi karena Lembah Sempit Sumpur Kudus ini merupakan suatu tempat yang
    strategis sepanjang masa sejarah.
    Sumpur Kudus adalah Negeri yang Indah, Lembah Sempit Sungai Sumpur dari Unggan,
    Silantai, Mangganti diapit oleh dua Bukit Barisan Timur dan Barat, dengan
    penduduknya yang ramah, damai dan menghargai tamu, merupakan kenangan indah di
    masa sulit. Semuanya itu, kombinasi keindahan alam dan keramah tamahan dan
    dinamika penduduknya pasti merupakan kenangan yang tak terlupakan dengan terima
    kasih dari lubuk hati nurani bagi para muhajjirin yang pernah berlindung di
    sana.
    Di sekitar hutan di sebelah Timur Sumpur Kudus di Hulu Batang Sami, (yang saya
    beri julukan Samy River) sekarang ada rimba durian yang sering dikunjungi
    penduduk di musim durian. Orang masih ragu dan brtanya bahwa pohon-pohon durian
    itu bukan tumbuh sendiri, pasti ada orang keramat yang menanamnya. Awal tahun
    2004 saya pribadi, incognito, berkunjung ke Sumpur Kudus. Walaupun dalam waktu
    yang sempit menjelang senja saya sempat menikmati keramah tamahan penduduk yang
    mengerubungi saya. Salah seorang Etek, Etek Sukar, orang yang mengalami sejarah
    PDRI dan PRRI di Sumpur Kudus mengenal saya dan menerangkan kepada orang ramai
    bahwa inilah orang yang dianggap "keramat" oleh penduduk yang telah
    menanam menyebarkan biji-biji durian di hutan itu 50 tahun yang lalu...
    Kunjungan itu merupakan kunjungan sore di menjelang senjakala yang tidak dapat
    saya lupakan. Sayang saya tidak sempat berkunjung ke Hutan Durian karena senja
    sudah melarai kasih.Saya berangkat meninggalkan Smpur Kudus di Malam Hari,
    penuh kenangan ke masa silam, lima puluh tahun yang lalu. Mudahan ada masanya
    lagi saya dapat berkunjung ke Smpur Kudus dengan waktu yang agak lapang
    berjumpa kemali dengan dengan penduduk di sama..
    Salam,
    -- Sjamsir Sjarif
    Di Tapi Riak nan Badabua
    Santa Cruz, California, USA
    Senin, 16 Juni 2008

    Dari Harian Singgalang kita baca:
    Sumpur Kudus Surplus Padi
    Sijunjung—Adalah ‘dosa’ bagi bangsa ini, jika membicarakan sejarah Indonesia
    tanpa menyebut Sumpur Kudus. Suatu daerah yang terletak di Kabupaten Sijunjung,
    Sumatra Barat. Memang sejarah yang diukir Sumpur Kudus tidaklah seheroik kisah
    Tuanku Imam Bonjol. Namun tanpa negeri paling ujung Sumbar itu, mungkin tidak
    akan ada Indonesia saat ini. Hal itu seperti tercatat dalam berbagai buku
    sejarah, Sumpur Kudus memiliki andil yang besar dalam menyelamatkan perjuangan
    Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), dibawah pimpinan Mr. Sjafruddin
    Prawira Negara..
    Untuk mengenang perjalanan sejarah PDRI itu, di Nagari Sumpur Kudus kini telah
    didirikan monumen PDRI.

    BalasHapus